Senin, 02 September 2013

5cm





 

Judul                         :  5cm
Penulis                      :  Donny Dhirgantoro
Penerbit                    :  PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun Terbit            :  2005
Cetakan                    :  X, November 2007
Tebal                         :  x + 382  halaman
Kategori                    :  Fiksi (Pencerahan)
Nomor ISBN             :  979-759-151-4
Harga                        :  Rp.60.000,00





Novel “5cm” adalah novel pertama karya Donny Dhirgantoro dengan sampul hitam. Di sampul depannya ada beberapa tulisan yang fontnya juga hitam dan di bagian tengah sampul depannya ada tulisan “5cm” dengan font yang agak besar berwarna putih. Dengan tampilannya, membuat orang penasaran dengan isi ceritanya.
Donny Dhirgantoro (lahir di Jakarta, 27 Oktober 1978) ialah seorang penulis yang baru mengeluarkan dua novel dan satu komik. Karirnya belum sematang penulis lain seperi Dewi Lestari, Darwis Darwis, dan Andrea Hirata yang sudah banyak mengeluarkan berjenis-jenis novel.
Pada novelnya, Donny Dhirgantoho biasanya mengisahkan kisah yang inspirasional dan obsesi yang besar dalam meraih cita-cita, menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih mimpi, serta membangkitkan semangat nasionalisme pembaca. Pada novel “5cm”, Donny membangkitkan semangat nasionalisme para pembaca melalui olahraga mendaki gunung. Sedangkan pada novel keduanya “2”, melalui olahraga bulutangkis.
“5cm” berisi kisah-kisah yang inspirasional yang cukup bagus, idenya menarik, tentang persahabatan. Penulisnya sendiri punya pengetahuan yang luas tentang lirik lagu, film, artis-artis dan orang terkenal.
Ini memang bukan buku baru, cetakannya pun dari mulai terbit pertama kali hingga kali ini tidak kurang sudah cetak ulang yang ke tiga belas. Menemukan buku ini seakan tak beda dengan menemukan lagi satu sisi perjalanan hidup manusia yang nyata. Menyadari akan adanya satu potensi yang luar biasa yang dimiliki oleh seorang mahluk yang paling sempurna itu, meski mungkin tak pernah sedikitpun terpikir olehnya akan mampu dicapai dalam bayang dia jauh di kesempatan sebelumnya.
5 cm, cukup unik memang. Hanya 3 huruf namun justru karakter buku ini yang sungguh kuat dari pertama kali saya melihatnya. Kekuatan penulis dalam merangkai alur-alur cerita, dipadu dengan tampilan awal sampul buku ini yang begitu elegant, sampul hitam dengan 3 huruf tadi serta berlatar belakang segala hal yang akan dilalui serta menemani oleh siapapun itu dalam hidupnya di dunia yang fana ini.
Berkisah tentang mimpi dan persahabatan memang lagi-lagi telah menjadikan buku seperti ini luar biasa untuk dinikmati oleh para pembacanya. Bermula dengan penuturan tentang segala hal yang dikemas begitu runtut, tentang kehidupan lima orang sahabat yang begitu unik serta menarik untuk diikuti. Membaca buku ini meskipun tidak menggunakan sudut pandang orang pertama yang menjadikan para pembaca layaknya bagai merasakan seperti menjadi tokoh utama dalam buku ini, namun tetap, para pembaca seakan diajak untuk langsung menjadi saksi perjalanan hidup mereka. Ada banyak tentang hal-hal cerdas yang selalu saja muncul kapanpun dan dimanapun yang selalu hadir disela-sela percakapan mereka.
Selain itu, kayanya buku ini akan kutipan-kutipan indah yang berasal dari manapun baik itu lagu ataupun film, tentunya lebih dari hanya sekedar menjadikan nilai tambah buku ini. Kekuatan penulis dalam memahami tentang segala hal mengenai dua dunia tersebut (film dan lagu, red), memang begitu tepat tersaji melalui penggambaran masing-masing tokoh didalam buku ini, yang juga pada dasarnya memang mereka memiliki kesamaan karakter dalam hal ini.
Perjalanan hidup lima sahabat ini yang begitu apik tergambar begitu nyata. Karakter masing-masing tokoh yang begitu kuat dan beda juga menjadikan buku ini begitu kaya akan peran yang ada. Mereka menjalani persahabatan memang bukanlah hanya dalam kadar waktu yang sebentar saja. Begitu lama. Hingga akhirnya persahabatan itupun meski begitu indah namun tetap pada satu masa akan mengantarkan mereka pada satu babak kehidupan yang menjenuhkan. Bertemu dengan orang-orang yang sama dalam berbagai kesempatan yang sama pula, mungkin itulah yang menjadi penyebabnya.
Mereka kemudian sepakat untuk mengambil sikap menghentikan sementara pertemuan-pertemuan mereka dalam masa tiga bulan lamanya, tanpa kabar, tanpa berita. Tiga bulan tentunya ini bagai masa yang begitu lama untuk dilalui oleh mereka. Masa yang seakan bagai sebuah garis panjang yang tak pernah berujung, begitu sulit untuk dilalui. Namun ternyata akhirnya mereka bisa melewati semuanya. Dalam tiga bulan itu, ada banyak hal yang dilalui oleh masing-masing mereka. Banyak hal yang menyadarkan pada diri mereka bahwa ternyata ada juga beberapa impian yang bisa mereka raih sendiri tanpa mesti ketergantungan atas keberadaan sahabat-sahabat lainnya.
Hingga akhirnya, 14 Agustus menjadi pertemuan mereka kembali setelah jeda 3 bulan itu. Dengan berbagai cerita baru dan kerinduan yang memuncak.
Pertemuan mereka dirayakan dengan menjadi salah satu bagian dari mereka para petualang. Menjadi bagian di dunia baru, dunianya para pendaki. Yang sebelumnya tak pernah terpikir oleh sebagian diantara mereka. Mahameru! Menjadi pilihan. Sebuah tanah tertinggi di pulau Jawa itu.
Dari sini perjalanan itu dimulai. Kita, para pembaca bagai terbawa menjadi bagian dalam kisah mereka. Merasakan bagaimana suasana stasiun kereta Senen, menyaksikan bagaimana kereta “MATARMAJA” dengan setianya merangkak dari keramaian kota hingga menuju ke heningnya desa. Melihat bagaimana penduduk negeri ini harus bertahan dalam bengisnya kehidupan, mencium bagaimana indahnya ibu pertiwi ini yang terlalu sedikit kita syukuri, hingga kitapun diajak untuk merasakan pula satu hal yang luar biasa tentang ia Mahameru.
Merasakan indahnya angin sore di Tumpang, dinginnya udara di Ranu Pane, indahnya Ranu Kumbolo, mistisnya Arco Podo hingga tentu luar biasanya Mahameru!
Luar biasa, semuanya begitu sempurna tergambar dalam buku ini. Menjadikan siapapun diantara kita yang membacanya seakan tergerak untuk bisa menjadi bagian dari mereka. Mereka yang memahami semuanya lewat alam. Mereka yang memahami semua kehidupannya lewat kuasa Illahi. Mereka yang memasrahkan jiwa raganya untuk kapanpun kembali tanpa mereka tahu, tanpa mereka mampu untuk menolaknya. Mereka para petualang itu. Mereka para pendaki puncak Mahameru.
                “Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja ,hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”.
Kelebihan buku ini adalah ceritanya yang menarik, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan alur cerita yang tidak membosankan sehingga pembaca ingin membaca buku ini hingga halaman terakhir. Pesan moral yang disampaikan pun sangat baik sehingga memotivasi pembaca agar bisa mengejar impian mereka dan membuat jadi nyata.
Sebuah karya seorang manusia pastilah mempunyai beberapa kekurangan begitupun juga nonel l ini, akhir cerita atau “ending” novel ini terasa begitu dipaksakan dengan pembentukan keluarga antara sahabat-sahabat tersebut ditambah dengan keturunan mereka yang begitu sama mewarisi sifat-sifat orangtuanya dan semuanya sebaya, seumuran. Bagi saya, akhir cerita di novel ini terlalu naif. Sekelompok sahabat itu masih saja mempunyai “ruh” kaum muda meski sudah memiki keturunan dan hal tersebut terasa juga pada anak-anak yang masih TK tetapi “jiwa”nya berjiwa kaum muda dewasa. Kedua hal tersebut membuat pembaca sulit membedakan mana yang menjadi anak dan mana yang menjadi bapak, mana yang pemuda dan mana pula yang anak-anak.
Ada banyak hal yang ditampilkan secara samar namun jelas banyak mengajarkan kita akan makna hidup ini tertulis dalam buku ini. Sehingga memang ini yang biasanya disukai oleh para pembaca, disadarkan tanpa merasa digurui. Satu nilai yang teramat penting untuk kita yakini dari buku ini, ternyata semua yang sebelumnya tak pernah terpikir untuk bisa diraih, dengan cara kita meletakkannya hal tersebut bergantung 5 cm didepan dahi kita, didepan pikir kita, akan menjadikan semuanya untuk mungkin dan tentunya bisa diraih. Semoga buku ini bia menjadi sebuah inspirasi baru bagi siapapun itu.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar